Badai Jiwasraya-Asabri Menggelinding Hantam Partai Banteng Moncong Putih

Samuel F. Silaen
Samuel F. Silaen
GTV

Jurnalhitz.com – Pertarungan antara kasus Jiwasraya vs kasus suap apes Komisioner KPU, cara-cara lama terulang didalam “me manage” bangsa ini. Kira-kira siapa aktornya kasus korupsi yang mencapai triliunan  rupiah itu?. Saya sebutin aktor karena ini kasus sudah cukup berjalan lama. Hal ini dikatan Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (LAKSAMANA) Samuel F. Silaen kepada awak Media di Jakarta. Minggu (12/1/2020).

“Mengapa kasus suap Rp 400-900 juta rupiah begitu heboh banget di semburkan dilinimasa sosial media, itulah pertanyaan besarnya. Sekarang yang dihantam itu partai pemenang Pemilu, yang di identikkan punya Jaksa Agung (Kejagung), kebetulan sedang tangani kasus korupsi di Jiwasraya. Eehh, belum kelar kasus Jiwasraya malah sekarang muncuat kasus korupsi di ASABRI, kabarnya mencapai 10 triliunan, ini sangat membuat pihak-pihak yang terkait ketakutan,” beber Silaen.

Menurutnya benar tidaknya kasus yang membelit Sekjen PDIP itu, sepertinya tidak sebanding dengan kasus mega korupsi di Jiwasraya yang sedang ditangani oleh Kejagung.

“Pertarungan antar elite-elite sedang berjibaku untuk saling “memangsa”, ini persis peribahasa gajah bertarung lawan gajah, pelanduk mati di tengah-tengah, maka yang menjadi korban adalah wong cilik,” ungkap Silaen.

Lanjutnya, kenapa partai Banteng Moncong Putih yang disosor? Ini dalam rangka ‘mem bargain kan’ kasus yang sedang diusut oleh Kejagung. Karena Kejagung di ‘asosiasi’kan kepada PDIP. Menurut Silaen inilah permainan bidak catur politik yang sedang coba dimainkan oleh para pemain Politik.

“Mungkinkah kasus Jiwasraya dan Asabri ini melibatkan banyak ‘pemain’ lama?. Disini begitu banyak orang (pihak-pihak) yang sedang ketar-ketir. Salah-salah jadi korbannya, inilah analisa Silaen terhadap kasus yang sedang ditembakkan ke sarang Banteng Moncong Putih itu,” papar Silaen.

Memang masalah bangsa ini kelihatan begitu rumit, karena kata dia masing-masing punya ‘kartu truf’, titik lemah dari dosa masa lalu. Pemerintah sekarang adalah warisan masa lalu, tentu saja dimasa lalu punya pemain dan itu mungkin berprilaku melawan aturan dalam menjalankan kebijakannya.

“Bisa disengaja bisa juga tidak disengaja karena harus tunduk pada kebijakan atasan masing- masing,” tutup Silaen.

Reporter : Drey

Pos terkait