BLANTERVIO103

Kapolda Papua Diminta Tutup Puluhan Usaha Diduga Tempat Prostitusi di Degeuwo

Kapolda Papua Diminta Tutup Puluhan Usaha Diduga Tempat Prostitusi di Degeuwo
10/04/2019
Jurnalhitz.com - Liar dan nampak tidak diperhatikan oleh pemerintah daerah setempat. Wilayah Kali Degeuwo Kabupaten Paniai Papua semakin kesini menjadi sarang prostitusi berkedok tempat hiburan malam. Dugaan praktek prostitusi berkedok tempat hiburan malam itu diketahui telah beroperasi selama 10 tahun lamanya. Hal ini dikatakan Yerri Basri Mak Ketua LSM Wadah Generasi Anak Bangsa (WGAB) Provinsi Papua.

Dalam keterangan persnya Yerri Basri Mak menyesalkan tindakan aparatur daerah setempat yang terkesan tutup mata dengan adanya praktek prostitusi berkedok tempat hiburan malam.

“Wilayah pedalaman Kali Degeuwo semakin liar dan tak terkontrol. Tempat hiburan malam bebas beroperasi di wilayah itu yang di pandang bisa merusak moral Orang Asli Papua (OAP) yang berdomisili di pedalaman Kali Degeuwo. Maka itu, kami LSM WGAB meminta agar Kapolda Papua segera menutup dan menghentikan tempat hiburan yang beroperasi di kali degeuwo,” tegas Yerri. Jumat (4/10/2019).

Yerri Basri Mak kepada awak media menyampaikan, dalam waktu dekat ini dirinya akan melakukan peninjauan di sepanjang pesisir Kali Degeuwo. Sebab sesuai data yang diterima dari laporan masyarakat dimana wilayah tersebut dikenal sebagai wilayah pertambangan emas tradisional.

Foto : Yerri Basri Mak
“Adanya aktivitas penambangan emas tradisional tersebut sehingga memicu hadirnya para pelaku usaha tempat hiburan malam yang diduga di jadikan tempat prostitusi berkedok cafe dan karaoke. Dan diwilayah tersebut juga diduga kuat dimana para pelaku usaha tempat hiburan menampung para pekerja wanita di bawah umur baik di lokasi 99 dan lokasi Bayabiru, pesisir Kali Degeuwo, Kabupaten Paniai,” bebernya.

Sesuai data yang di himpun oleh tim investigasi LSM WGAB dari beberapa mantan ladies karaoke di lokasi 99 dan Bayabiru dimana menuturkan nama-nama pengusaha tempat hiburan di lokasi 99 Degeuwo sebagai berikut :

1. Karaoke Onald Tatto Batu Putih
2. Karaoke Iwan Bibi
3. Karaoke Mama Natan
4. Karaoke Azar
5. Karaoke Cendana
6. Karaoke Utu
7. Karaoke Mama Nisa
8. Karaoke Atlanta
9. Karaoke Yunal Batu Putih
10. Karaoke Ucok Batu Putih
11. Karaoke Mama Dila
12. Karaoke Mama Janet
13. Karaoke Papa Ara Paul
14. Karaoke H. Nasir
15. Karaoke Sahir
16. Karaoke MM
17. Karaoke Ayah Anton
18. Karaoke Vita
19. Karaoke Dani
20. Karaoke Hilda
21. Karaoke Tina
22. Karaoke KPU
23. Karaoke Pak Kris
24.Karaoke Rincing

Sementara tempat hiburan yang beroperasi di Bayabiru adalah :
1. Karaoke Kova
2. Karaoke Adista
3. Karaoke Nom Nom
4. Karaoke Putri
5. Karaoke All
6. Karaoke Acil

Lebih lanjut Yerri Basri Mak menjelaskan, adapun menurut laporan warga bahwa diketahui di wilayah tersebut marak judi togel yang di bandari oleh Om Kumis Kacamata di Bayabiru, dan Opo Sanger di wilayah 99 dan 45.

“Tentunya sangat tidak di sangka kegiatan-kegiatan tersebut bisa beroperasi dengan mulus di tengah hutan, hal ini tentunya ada dugaan kerja sama dengan pihak oknum aparat,” imbuh Yerri.

“Sesuai data yang kami temui dari beberapa pelaku usaha tempat hiburan tersebut, di mana sebagai penyalur minuman keras yang di kirim melalui bandara Nabire tujuan pesisir Kali Degeuwo menggunakan helikopter diketahui dilakukan oleh Aswar Pinrang”.

Foto : Pengusaha Tempat Hiburan Malam di Degeuwo
Yang lebih ironisnya lagi dari penuturan salah satu pengusaha yang tidak ingin disebutkan namanya kepada LSM WGAB, kata Yerri dimana para pelaku usaha karaoke dan sembako wajib menyetor biaya bulanan kepada oknum aparat Polres Paniai sebesar Rp 20 juta dari lokasi 99 dan Rp 15 juta dari lokasi Bayabiru dan setiap bulan masih berjalan sampai saat ini. Adapun surat izin keramaian wajib di bayar ke oknum aparat Polres Paniai sebesar Rp 3 juta pertiga bulan dari setiap pengusaha karaoke.

Sedangkan memasok minuman keras (Vodka) dari Nabire ke Degeuwo menggunakan helikopter, dimana setiap 1 karton (koli) Vodka wajib membayar Rp 1.500.000,- ke pihak Pospol KP 2 Bandara Nabire, sedangkan jika miras tiba di lokasi 99 dan Bayabiru dalam setiap satu karton (koli) miras Vodka wajib membayar ke Pospol lokasi 99 dan Bayabiru sebesar Rp 500 ribu per karton.

“Dan hal tersebut sudah berjalan kurang lebih 10 tahun dari sekarang dari penuturan narasumber yang tidak ingin di sebutkan namanya kepada LSM WGAB,” terang Yerri.

Sementara dengan tegas Yerri Basri Mak selaku Ketua LSM WGAB Provinsi Papua meminta kepada Kapolda Papua Irjen Pol Drs Paulus Waterpau agar segera menindak tegas, berhentikan serta bersihkan kegiatan tersebut dari wilayah pesisir Kali Degeuwo.

“Ini ujian buat Kapolda Papua, apakah Paulus Waterpau bernyali untuk menutup tempat hiburan malam yang meresahkan tersebut, sebab di pandang sudah merusak moral anak Papua. Dan dengan lancarnya peredaran miras di Kali Degeuwo tentunya bisa memicu konflik," tandas Yerri Basri Mak.

Reporter : Wlm

Share This Article :
Jurnalhitz

TAMBAHKAN KOMENTAR

480167967060055368