BLANTERVIO103

Kantor DPP Partai Golkar Dijaga Ketat Sinyal Kekalahan Incumbent

Kantor DPP Partai Golkar Dijaga Ketat Sinyal Kekalahan Incumbent
9/10/2019
Foto : Samuel F Silaen
Jurnalhitz.com - Tarik-menarik kepentingan antara kelompok yang ingin memajukan pelaksanaan Munas atau kelompok yang ingin pelaksanaan Munas dilakukan pada Desember 2019 sesuai aturan dianggap masih dalam koridor normal demokrasi di internal Golkar.

Termasuk pula, aksi saling tuding dan serang antar kubu pendukung Calon Ketua Umum Airlangga Hartarto dan Kubu Bambang Soesatyo merupakan dinamika yang biasa di internal partai beringin.

Sejumlah anggota Pengurus Pusat Angkatan Muda Partai Golkar (AMPG) hari ini (09/09) sampai menyambangi DPR. Mereka melaporkan Kapolres Jakbar Kombes Hengki Haryadi ke Komisi III DPR.

Pelaporan ini menyusul peristiwa penutupan akses di kantor DPP Golkar, Jl Anggrek Neli Murni, Jakarta Barat. Tudingan menyebut Polres Metro Jakbar memfasilitasi penutupan kantor Golkar atas perintah Ketum Golkar Airlangga Hartarto.

Dalam pandangan Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Studi Masyarakat dan Negara (Laksamana) Samuel F Silaen, berkomentar terkait situasi aksi saling tuding dan serang antar kubu pendukung Calon Ketua Umum.

"Tuding menuding tak terhindarkan apalagi klaim-klaim dikedua belah kubu terjadi dengan masif dipertontonkan dimuka publik, jadi persoalan golkar tidak hanya menjadi konsumsi internal partai golkar saja," papar Silaen  mantan aktivis KNPI ini.

Nyata terlihat ketika hal-hal 'nyeleh' dan terkesan berlebihan dipertontonkan oleh pihak incumben dalam mengelola kedaulatan partai dimasa kekuasaannya. Sehingga dalam pandangan politik saya ini isyarat ketidak-pedean incumben dalam mempertahankan kepemimpinannya didalam pertarungan di Munas 2019 yang akan datang.

Apakah ini pertanda sebuah kekalahan dipihak incumben? Sehingga melakukan over protektif?'

"Kontraksi dikedua pendukung yang kasar, ditambah adanya 'fragmented' faksi-faksi di internal partai juga turut menghadirkan situasi yang kurang kondusif, "ungkap Silaen alumni LEMHANAS pemuda I 2009 itu.

Jika dia (incumben) yakin akan menang dalam perhelatan Munas partai beringin tersebut, mengapa pula tata kelola partai, seperti terkesan kurang demokratis dan otoriter. Sehingga riak-riak begitu kencang berhembus menerpa pohon beringin itu.

Semua pihak sama-sama berharap kontestasi jelang Munas 2019 dilakukan dengan cara-cara demokratis dan beradab. Tapi nyatanya, tak demikian faktanya karena yang muncul dimedia ialah bahwa apa yang disampaikan oleh kedua pendukung sama-sama 'ngotot' merasa paling bener dalam menjalankan aturan main partai. Pertanyaannya apakah demikian 'nawai'nya?

Jika itu yang dikedepankan mengapa sampai sekarang tidak menemui titik temu diantara kedua pendukung yang sedang 'perang dingin'? Apa yang terjadi dan apa akar masalahnya, seharusnya itu yang sama-sama dicari oleh para pendukung yang lagi bersitegang. Solusi apa yang terbaik untuk kemajuan partai politik berlambang pohon beringin yang rindang itu.

Pengamat Politik Milenial dari LAKSAMANA Samuel F Silaen, menyayangkan konflik yang terjadi sesama pengurus internal Partai Golkar tak kunjung teratasi. Jika tahu apa rugi dan untungnya partai pecah maka kenapa tidak bersatu untuk membesarkan dan memajukan partai golkar?

Ia menilai munculnya konflik terkait desakan penyelenggaraan rapat pleno untuk membahas evaluasi Pemilu 2019, Pilkada 2020, dan rencana pelaksanaan musyawarah nasional menunjukkan partai berlambang beringin itu tak memiliki arah politik yang jelas, "tutup Silaen akhiri perbincangan. [PR]

Share This Article :
Jurnalhitz

TAMBAHKAN KOMENTAR

480167967060055368