Membaca Oknum Penumpang Gelap Pilpres 2019 yang Disebut Prabowo

Foto : Samuel F Silaen
Uneg-uneg yang disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad berkisah soal ada penumpang gelap pada Pilpres 2019 yang kerap menyudutkan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto dan Gerindra.

Prabowo kesal karena ulah para penumpang gelap itu. Prabowo adalah calon presiden nomor urut 02 pada Pilpres 2019. Mantan Danjen Kopassus itu, kata Dasco, ingin membuat para penumpang gelap tersebut gigit jari.

Ini menarik untuk dicermati perkembangan politik kekinian, pasca rangkaian pertemuan penting hingga kehadiran Prabowo di Kongres V Bali, sekarang mulai terkuak pihak-pihak yang selama ini, diduga memboncengi Prabowo.

Diawal-awal mungkin saja pendiri partai kepala garuda itu tidak menyadari bahwa ia sedang dimanfaatkan/diboncengi. Namun entah kenapa baru sekarang baru diketahui oleh sang Capres. Disatu sisi ada baiknya kayak film India dimana pendekar selalu menderita dibabak awal-awal film mulai, artinya meski kelihatan terlambat untuk menyadari hal itu, namun lebih baik daripada tidak sadar-sadar 'kan begitu' kalau prabowo selama ini hanya dimanfaatkan oleh oknum-oknum tersebut.

Tentu ini menjadi problem besar, jika partai Gerindra tidak menuntaskan sendiri 'problem' itu maka oknum penumpang gelap tersebut akan selalu mencari tumpangan/boncengan baru, semisal figur kendaraan lain untuk diboncengi lagi.

Hal ini sangat mencemaskan masa depan bangsa ini, jika hal ini tidak 'diputus' artinya dituntaskan oleh Gerindra, siapa oknum penumpang gelap yang dimaksud tersebut. Ini akan menjadi bola liar ditengah kehidupan berbangsa dan bernegara, itu akan menimbulkan kecurigaan yang berkepanjangan yakni saling curiga yang berkelanjutan diantara para elite bangsa ini dan juga akan menguras energi yang ada.

Jika kita ambil contoh, ibarat penyakit kronis yang sudah menjangkiti organ tubuh tertentu semisal kaki lah, karena sudah tidak bisa disembuhkan, artinya divonis sudah tidak bisa lagi disembuhkan maka daripada 'virusnya' menyebar ketempat lain yang mematikan maka lebih baik segera 'diamputasi' karena jika tidak segera diamputasi maka 'penyakitnya' akan menyebar dan menjangkiti seluruh tubuh, lalu mati!

Demikian juga 'virus' ideologi trans nasional yang belakangan ini menguat ditengah masyarakat dan bangsa ini sangat mungkin berujung pada kehancuran negeri ini. Indonesia adalah negara yang memiliki banyak sekali suku bangsa. Selain itu negara ini juga memiliki 6 agama resmi dijalankan secara berdampingan. Itulah Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi semboyan Indonesia.

Namun sayangnya dalam beberapa hal, keberagaman ini justru menjadi masalah yang sangat besar. Bahkan bisa memicu suatu bentrokan hingga perang.

Saya pribadi sarankan, sebaiknya partai Gerindra mau membuka saja oknum yang dimaksud sebagai penumpang gelap tersebut, agar oknum itu tidak mencari lagi tempat atau orang yang akan diboncenginya.

Masalah seperti ini harusnya bisa diselesaikan dengan baik. Dengan begitu di kemudian hari tak akan bermunculan kasus yang sama, yang dapat mengancam keutuhan bangsa dan negara ini. Disamping itu TNI- Polri harus tegas menegakkan aturan yang ada tanpa pandang bulu, agar tidak menimbulkan kecemburuan sosial. Akar masalah ketidakadilan juga dapat memicu disintegrasi sosial.

Apabila terjadi pembiaran masalah yang tak kunjung mendapatkan kejelasan ditengah masyarakat, ini ibarat sedang menumpuk bara api, yang suatu saat pasti akan meledak. Negara ini milik kita bersama, milik kita semua, yang harus kita jaga sampai kapan pun, jika ada masalah, mari diselesaikan lewat jalur- jalur konstitusi yang telah tersedia.

Oleh : Samuel F Silaen
Direktur Eksekutif LAKSAMANA