BKSDA Jakarta akan Melakukan Translokasi Hewan Liar di Tiga Wilayah Indonesia


Jurnalhitz.com - Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Ditjen KSDAE KLHK) melalui Balai konservasi Sumber Daya Alam Jakarta (BKSDA Jakarta) berupaya mewujudkan aksi nyata penyelamatan satwa liar yang dilindungi melalui persiapan pelaksanaan translokasi.

Saat ini akhir Juli 2019 tercatat 267 (dua ratus enam puluh tujuh) ekor satwa yang dirawat di PPS Tegal Alur, terdiri dari 44 (empat puluh empat) Mamalia, 117 (seratus tuju belas) reptil, dan 106 (seratus enam) aves.

Sementara daya tampung PPS Tegal Alur sebanyak 159 (seratus limpa puluh sembilan) ekor satwa terdiri daru berbagai kelas Mamaliam Reptil, Primata, Aves.

Kepala Balai KSDAE Jakarta, Ahmad Munawir, S. Hut., M. Si., mengatakan mentranslokasikan 61 ekor kura-kura Moncong Babi berasal dari hasil penyerahan Polda Metro Jaya, kura-kura moncong babi merupakan salah satu satwa liar yang di lindungi oleh Pemerintah Nomo 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

"IUCN menetapkan jenis tersebut masuk ke dalam status terancam punah dan terdaftar sebagai Appendix II CITES. Kura-kura Moncong Babi ini akan ditranslokasikan ke Balai Besar KSDA Papua untuk selanjutnya di lepaskan liar ke habitat aslinya," kata Ahmad saat konferensi pers nya di PPS Tegal Alur, Jakarta Barat, Senin (12/8/2019).

"Setelah akan kami titipkan ke Papua nanti akan di rilis dan akan di gabungkan disana (Papua). Dengan kebersamaan nya nanti kita rilis pada saat menjelang kemerdekaan," papar dia.

"Untuk yang burung Kakatua Tanimbar sebanyak 4 (empat ekor) ini tidak bisa dirilis2 langsung dikarenakan harus di rehabilitasi dahulu," tambah dia.

Jenis burung ini juga sudah berkurang ekosistemnya di alam, dan juga sering di buru oleh para pemburu satwa. Burung ini juga satwa liar yang dilindungi sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa, burung tersebut juga status nya terancam punah (IUCN Redlist) dan terdaftar sebagai Appendix I CITES

"Translokasi kakatua tanimbar ke Pusat Rehabilitasi Satwa Mashulan Maluku untuk merahabilitasi satwa tersebut agar dapat beradaptasi kembali dengan perilaku alaminya sebelum dilakukan pelepasan liaraan ke habitat aslinya," ujar dia.

Lebih jauh ia menjelaskan ketiga ekor Owa Ungko dan Enam ekor siamang tersebut berasal dari penyerahan sukarela dari masyarakat.

"Owa ungko dan siamang juga salah satu merupakan satwa yang dilindugi sesuai peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999 tentang Pengawetan Tumbuhan dan Satwa dengan status perlindungan Endangered berdasarkan IUCN Redlist," tuturnya.


"Kedua jenis satwa tersebut akan ditranslokasikan ke Yayasan Kalaweit Sumatera Barat untuk di rehabilitasi agar dapat beradaptasi kembali dengan perilaku alaminya sebelum dilakukan pelepasliaran ke habitatnya," tandas dia.

Reporter : Herpal