Kementan Ekspor 14 Ton Larva Lalat ke Belanda


Jurnalhitz.com  - Peluang pasar internasional bagi komoditas unggulan pertanian semakin terbuka lebar. Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian (Barantan) memanfaatkan kesempatan ini dengan menggenjot ekspor produk pertanian unggulan Indonesia. Biocycle, perusahaan yang mengekspor larva lalat, sudah kedua kalinya melakukan ekspor ke negeri Kincir Angin. Sekretaris Perusahaan Biocycle Elza Mayang, menilai pasar ekspor untuk larva lalat masih bisa diperluas ke negara lainnya selain Belanda.

"Larva lalat sebagai alternatif pakan ternak ini banyak kelebihannya karena memiliki kadar protein yang lebih tinggi 40 persen. Selain untuk ikan ternak juga bisa digunakan untuk Ikan Hias. Saat ini baru penjajakan dengan USA, tetapi tidak menutup kemungkinan bisa ke negara lainnya," kata Elza Mayang selaku Sekretaris Perusahaan Biocycle, saat di temui oleh WARTALIKA.id, di Tanjung Priok, Jakarta, Senin (22/4) siang.

"Kami sangat berterimakasih kepada badan karantina pertanian dengan adanya program "Agro Gemilang". dengan adanya program seperti itu kami bisa mengekspor larva lalat ke mancanegara," ungkap Elza.

"Saya sangat berharap kepada balai karantina bisa membuka ekspor yang lebih banyak lagi, supaya perusahaan yang belum mengetahui seperti ini bisa berpartisipasi lagi untuk mengekspornya," tambah Elza.

Kita mengekspor larva lalat ini, sambungnya sekitar 14 ton atau 2 kontainner untuk membawa larva lalat, karena larva lalat ini sangat ringan dibawanya. Untuk pakan ikan itu sangat mahal di luar Negeri, jadi penggantinya protein menggunakan larva lalat ini.

"Karena bisa mengurangi biaya yang terlalu mahal bagi mereka, kenapa di eropa itu tidak bisa melakukan seperti ini karena terpengaruh dari cuaca udaranya, sama hal nya seperti di Indonesia ini," ucap Elza.

"Ini yang kelima containner kita mengekspor mengenai larva lalat ke mancanegara, tahun depan kita lebih dari 100 ton perbulan dan kami baru bisa menargetkan 10 ton dalam sebulan. Kami berharap bisa mengekspor setiap bulannya," tutur Elza.

Dalam kesempatan yang sama Kepala Karantina Pertanian Tanjung Priok, Purwo Widiarto menyampaikan sepanjang tahun 2018, frekuensi ekspor komoditas tumbuhan ke luar negeri yang melalui Tanjung Priok sebanyak 12.700 kali. Frekuensi tersebut meningkat 8 persen dibandingkan 2017 yaitu 11.594 kali.

Selama 2018 telah dilakukan ekspor terhadap komoditas tumbuhan berupa kakao, pinang biji, buah manggis, kopra, dan dracena yang mencapai nilai Rp3 triliun. Komoditas dengan kuantitas tertinggi adalah kakao sebanyak 48.141 ton senilai Rp1,1 triliun.

Negara tujuan ekspornya antara lain Amerika Serikat, Meksiko, Ukraina, Jepang, Belanda, Vietnam, Thailand, Malaysia, Kroasia, Tiongkok, Australia, Ekuador, Bangladesh, Filipina, Pakistan, India, Mesir, dan Estonia.

Sementara itu nilai ekspor periode Januari-April 2019 tercatat telah mencapai Rp980,5 miiar dengan komoditas unggulan yang sama yaitu kakao sebanyak 13.423 ton atau senilai Rp308,7 miliar.

Selain komoditas tumbuhan, selama 2018 juga dilakukan ekspor terhadap komoditas unggulan hewan, tercatat sebanyak 891 kali dan tahun 2017 sebanyak 412 kali yang berarti mengalami kenaikan sebanyak 53 persen.


Selama kurun waktu 2018, ekspor komoditas hewan melalui Karantina Pertanian Tanjung Priok mencapai Rp704,4 miliar dengan komoditas unggulan tertinggi adalah cattle bone grist atau raw material tulang berukuran 1-5 mm. Sebanyak 2 ton kulit sapi juga menjadi komoditas unggulan ekspor senilai Rp1,1 miliar. @agung