Gelar Konferensi Pers, LPAI Nyatakan Indonesia Darurat Rokok


Jurnalhitz.com  - Rokok sejak lama menjadi permasalahan kesehatan global di seluruh dunia. Untuk itu rokok menyebabkan kematian lebih dari 5 juta orang di seluruh dunia setiap tahunnya dan masih akan terus meningkat di masa mendatang, diperkirakan menimbulkan kematian lebih dari 8 juta orang pada tahun 2030. Rokok yang merupakan produk tembakau diindentifikasi sebagai faktor resiko berbagai macam penyakit seperti penyakit paru obstruksi kronik (PPOK), penyakit kardiovaskuler, kanker, paru, dan sejumlah kanker tertentu.

Henny Adi Hermanoe Ketua Harian LPAI mengatakan pada saat konferensi pers di Hotel Balairung, Jakarta, Kamis (21/3), industri rokok remaja merupakan jaminan keberlangsungan industrinya, karena kematian para perokok setianya tidak dapat dihindari dan disebabkan berbagai penyakit mematikan seperti kanker paru, kanker tenggorokan, kanker hati dan lainnya.

“Data survey terbaru LPAI terkait prilaku anak merokok, dari data yang di dapat sebanyak 73% anak merokok diawali dengan melihat iklan, promosi, dan sponsor rokok di sekitar lingkungannya," ucap Henny Adi.

Lanjut Henny Adi menjelaskan, data berdasar RESKESDAS 2018, prevelensi anak merokok berumur 10-18 Tahun terus semakin meningkat, ini bisa dicermati dari data RKD tahun 2013 sebanyak 7,3% anak merokok, meningkat di tahun 2016 (Sikernas) sebesar 8,8% dan semakin meningkat sebesar 9,1% ditahun 2018 berdasarkan data RKD.


“Sedangkan, berdasar data Badan Pusat Stastik (BPS) 3 komsumsi rokok adalah nomor 2 (dua) setelah konsumsi beras dikalangan masyarakat pra-sejahtera," tuturnya.

“Data dari Tonacco Atlas tahun 2018 Indonesia merupakan negeri tertinggi ke-3 setelah India dan China dalam hal jumlah perokok, serta hingga saat ini tidak ada kenaikan cukai rokok merupakan salah satu faktor untuk pengendaliam produk tembakau di Indonesia," tutur Hanny.

Hanny juga mendorong adanya revisi UU No 35 Tahun 2014 tentang perubahan UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, khususnya pasal 59 ayat (2) huruf e dan pasal 67 yang menyatakan zat adiktif lainnya.

“Kami juga mendesak Pemerintah RI untuk meratifikasi FCTC yang bertujuan untuk pengendalian peredaran produl tembakau di Indonesia. Dan memberikan edukasi ke masyarakat, khususnya anak dan remaja yang rentas akan menjadi korban atas prilaku anak merokok, khususnya rokok elektrik terhadap proses tumbuh kembang dan kesehatan anak, keluarga dan masyarakat," pungkas Hanny. @agung